Apa itu Defibrilator? Cara kerja AED dan Cara menggunakannya
02 Feb 2026 — Administrator Edukasi 3 menit baca
Ringkas dengan AIDefibrilator adalah perangkat medis yang penting dalam penanganan keadaan darurat seperti serangan jantung yang mengancam nyawa. Dengan kemampuannya untuk mengembalikan detak jantung yang tidak teratur ke ritme normal, defibrilator telah menjadi salah satu alat yang sangat vital di unit gawat darurat, rumah sakit, dan tempat-tempat publik tertentu. Artikel ini akan menjelaskan secara mendalam tentang apa itu defibrilator, cara kerjanya, jenis-jenisnya, serta pentingnya defibrilator dalam menyelamatkan nyawa.
Defibrilator adalah alat medis yang digunakan untuk mengembalikan detak jantung yang tidak teratur atau berhenti (fibrilasi ventrikel) ke ritme yang normal. Detak jantung yang tidak teratur ini dapat menyebabkan serangan jantung, yang merupakan kondisi medis serius yang membutuhkan penanganan segera. Defibrilator bekerja dengan memberikan listrik ke jantung untuk mengatur ritme jantung yang normal.
Cara Kerja Defibrilator
Defibrillator adalah alat yang mengirimkan kejutan listrik atau denyut nadi ke jantung untuk mengembalikan ritme normal. Mereka digunakan untuk mencegah dan memperbaiki irama jantung yang tidak normal (aritmia), dan juga untuk menghidupkan kembali jantung jika berhenti karena serangan jantung mendadak atau kondisi jantung lainnya. Defibrillator pertama didemonstrasikan pada tahun 1899 oleh Frédéric Batelli dan Jean-Louis Prévost, dua ahli fisiologi dari Universitas Jenewa.
Selama 100 tahun berikutnya, peralatan defibrilasi terus dikembangkan, dengan uji klinis menghasilkan unit yang sepenuhnya portabel pada tahun 1960an. Setelah itu, defibrilator implan dan perangkat yang dapat dipakai dikembangkan untuk pasien yang berisiko tinggi mengalami masalah aritmia ventrikel dan fibrilasi atrium. Ketiga perangkat ini kini menjadi peralatan medis standar yang digunakan di seluruh dunia untuk mengobati disritmia jantung, khususnya fibrilasi ventrikel (VF) dan takikardia ventrikel non-perfusi (VT).
Meskipun masing-masing cara kerjanya sama, masing-masing memiliki peran yang berbeda bagi pasien, profesional kesehatan, dan masyarakat umum. Di bawah ini, kita melihat berbagai jenis defibrilator dan aktivitas normal yang harus dilakukan.

Apa Saja Jenis-Jenis Defibrillator?
Manual External Defibrillator (MED)
Jenis defibrilator ini hanya dapat digunakan oleh profesional kesehatan dan terutama ditemukan di rumah sakit dan ambulans. Alat ini digunakan bersama dengan elektrokardiogram (EKG), dan pengguna perlu mengidentifikasi secara manual apakah pasien memerlukan kejutan listrik, dan jenis voltase apa yang diperlukan.
Automated External Defibrillator (AED)
Jenis defibrilator ini menggunakan dua dayung atau bantalan lengket (elektroda) untuk menghantarkan sengatan listrik guna mengembalikan detak jantung alami dengan cara yang mirip dengan MED. Alat tersebut dirancang agar siapa pun dapat menggunakannya dalam keadaan darurat, dan komputer otomatis menganalisis ritme jantung untuk memastikan apakah diperlukan kejutan listrik—hanya memerlukan sedikit atau tanpa masukan pengguna untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD)
Defibrilator ini dipasang melalui pembedahan di dalam rongga dada untuk memeriksa dan memperbaiki aritmia. Cara kerjanya mirip dengan alat pacu jantung, namun meskipun alat pacu jantung hanya memberikan kejutan tingkat rendah, defibrilator ICD mampu memberikan kejutan energi rendah dan tinggi.
Wearable Cardioverter Defibrillators (WCD)
Seperti ICD, WCD dapat memberikan kejutan berenergi rendah dan tinggi kepada pasien. Faktanya, satu-satunya perbedaan adalah perangkat ini dipasang pada kulit dengan kabel tambahan yang dihubungkan ke unit yang memantau jantung Anda.
Bagaimana Cara Kerja Defibrillator AED?
Defibrilator AED bekerja dengan mengidentifikasi aritmia dan gagal jantung menggunakan komputer canggih dan kemudian memberikan kejutan untuk mengembalikan jantung ke ritme alaminya. Sesuai dengan namanya, defibrilator menghentikan fibrilasi, yaitu “gemetar” yang mungkin dialami otot jantung seseorang saat serangan jantung.
AED mencapai hal ini dengan mengalirkan arus listrik melalui jantung, menyetrumnya kembali ke ritmenya. Bantalan lengket pada AED membentuk sirkuit, memungkinkan listrik mengalir ke seluruh tubuh tanpa merusaknya dan, bila ditempatkan dengan benar, memfokuskan arus tersebut langsung ke jantung.
Sumber artikel: google.com. chat gpt, yahoo.com